Rabu, 04 November 2009

Untuk yang sudah berkeluarga

MEMBENTUK KELUARGA YANG TANGGUH


Membentuk keluarga yang tangguh bukan hal yang mudah. Pasalnya menyatukan dua individu yang berbeda saja memerlukan kerja keras dan waktu yang lama. Diperlukan ilmu khusus untuk membangun keluarga yang tangguh.

"Yang pertama adalah suami-istri harus diikat dengan iman. Dengan bagitu tanggung jawab bukan hanya pada pasangan tetapi juga pada Tuhan," ujar Prof. DR. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, disela-sela Workshop pranikah dan parenting di Jakarta, Selasa ( 15/9 ).

Kedua, pasangan harus mempunyai kecerdasan emosi. Rasa percaya dan empati diantara keduanya akan terbangun dengan sendirinya. Kecerdasan emosi bisa didapat asal pasangan terus belajar memahami satu sama lain.

Ketiga, kehidupan rumah tangga harus selalu dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang. Jika kedua hal tersebut ditinggalkan, maka akan berdampak negatif. Perselisihan dapat sering terjadi.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah masalah pendapatan. Pasalnya tak dapat dipungkiri semua kebutuhan rumah tangga harus dipenuhi.
 "Cinta dan iman juga harus dilengkapi dengan income. Tapi pendapatan jangan dijadikan fokus," kata Komarrudin.

Ia juga berpendapat, tidak menjadi masalah jika pendapatan istri lebih besar dari suami. Komarrudin mencontohkan, pendapatan Nabi Muhammad SAW lebih kecil dari pada penghasilan Siti Khadijah istrinya. Namun Siti Khadijah tetap dapat menghormati suaminya.
"Pendapatan istri boleh saja lebih besar, namun suami harus menjadi lebih kaya hati dari istri," ujarnya.

Dikatakannya, setiap pasangan harus mempunyai benteng yang kuat agar tidak tergoda dengan hal yang dapat merusak rumah tangga. Jika merasa benteng yang dipunyai tidak cukup kuat, maka sebaiknya hindari semua godaan tersebut.
 "Jangan mendekati godaan kalau tidak dapat melawannya, jauhi saja," saran dia.


*******


CARA BERTENGKAR YANG CERDAS

Perbedaan pendapat yang berujung pada pertengkaran pasti sering Anda alami dengan pasangan. Hal tersebut memang tidak bisa dihindari apabila Anda dan pasangan dalam keadaan emosi lalu saling beradu argumen.
Pertengkaran merupakan hal wajar dan bisa menjadi proses pendewasaan hubungan. Lalu, bagaimana agar pertengkaran yang terjadi antara Anda dan pasangan tidak hanya sekedar perang kata-kata tetapi menjadi sebuah pembelajaran ?

1. Fokus
Saat bertengkar, fokuslah pada masalah yang memicunya, jangan melebar ke masalah lain yang tidak berhubungan. Seringkali saat bertengkar kita mengungkit masalah lama yang sudah selesai. Hal itu hanya akan membuat pertengkaran semakin sengit dan akan sulit menemukan jalan keluar karena pikiran Anda bercabang ke masalah lain yang sebenarnya sudah diselasaikan dengan baik. Jadi, saat bertengkar berusahalah untuk fokus pada masalah yang sedang terjadi dan hindari mengungkit masalah lama.

2. Akui kesalahan
Pertengkaran seringkali dipicu karena Anda atau pasangan tidak mengakui kesalahan. Cobalah untuk berjiwa besar dengan mengakui kesalahan jika Anda memang melakukannya. Jangan mencoba melindungi diri dengan melakukan kebohongan karena bisa menjadi bumerang bagi hubungan.

3. Tidak bertengkar di depan anak-anak
Bertengkarlah di dalam kamar dan jangan sampai anak-anak tahu. Bayangkan jika mereka melihat atau mendengar Anda dan pasangan saling berteriak satu sama lain. Hal itu pasti akan berpengaruh negatif pada perkembangan psikologisnya. Jika Anda menganggap masalah yang ada sangat penting untuk dibahas segera dan bisa memicu pertengkaran, segera ajak pasangan ke dalam kamar atau ruangan lain untuk membicarakannya.

4. Cari penyelesaian
Jangan sampai pertengkaran yang terjadi tidak menghasilkan apa-apa. Anda dan pasangan harus mendapatkan pelajaran baru dan cara menyelesaikannya. Ingatlah kalau pertengkaran adalah proses pembelajaran. Jadi hal itu semacam tes apakah Anda dan pasangan bisa menyelesaikannya atau tidak. Cari jalan keluar dan jangan menggantungkan masalah. Jangan sampai dikemudian hari Anda dan pasangan bertengkar karena masalah yang sama. Hal itu menandakan masalah tidak diselesaikan dengan baik dan tuntas.

5. Katakan maaf
Saat bertengkar Anda bisa saja mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati pasangan. Untuk itu, tidak penting siapa yang memulai pertengkaran, Anda juga harus meminta maaf padanya. Hal itu bukan hanya sekedar Anda mengakui kesalahan tetapi lebih pada menghargainya sebagai pasangan dan mempererat hubungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar