Untuk “ Sari Nurmala “
Kelas VI SD tahun 1986
Sesuatu yang indah mulai merasuki hatiku
Rasa tak biasa tatkala kupandangi wajah ayumu
Tersipu malu manakala mata saling bertatap
Senyum tersimpul bahagia dibibirku…
Tatkala kutahu engkaupun selalu memperhatikanku..
Rasa kangen selalu menggerus hatiku
Bila satu hari tak bertemu dan melihatmu
Terasa sunyi sepi dikala malam mulai meremang..
Kegelisahan … kehampaan begitu menikam jantungku..
Dan
Hanya lewat goresan kata yang kukirim melalui surat
semua kegelisahan ini perlahan sirna.
Rasa berbunga-bunga tatkala kudapatkan balasanmu
Jauh dari lubuk hati…
Keinginan bertemu selalu menggebu..
Tapi …
Setelah engkau hadir dan datang di hadapanku…
Mengapa aku tak berani tampakkan muka di hadapanmu
Aku hanya berani mengintip dari ruang sembunyi…
Dan itu sudah suatu kebahagiaan tak terhingga…
Untuk “Aan Rohanah”
Tatkala kutahu isi hatimu..
Sungguh aku terkejut dan tersentak..
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi…
Masa kecilmu aku tahu..
Karena engkau adalah teman sekelas adikku..
Dan saat itu aku selalu menjodohkanmu dengannya..
Kini setelah sekian tahun tak bertemu..
Semuanya telah berubah…
Engkau menjadi gadis yang cantik..
Dan tidak kupungkiri..
Aku pun jatuh hati padamu..
Tapi mungkinkah…?
Bagaimana dengan perasaan adikku…?
Haruskah aku menyakiti hatinya…
Tidak..
Aku tahu kau mungkin kecewa
Tapi aku takut adikku yang lebih kecewa..
Maafkan aku…
Tak bermaksud aku menyakiti hatimu
Tetapi semua ini tak mesti terjadi antara kita..
Biarlah aku mengorbankan perasaanku sendiri..
Maafkan aku …
Untuk “Tjun Hoa”
Kerlingan matamu meruntuhkan jantungku
Tinggi semampai tubuhmu membuatku terfana
Senyum manismu menggetarkan kalbuku
Canda tawamu meremukan nadiku
Aku tak tahu berkata apa lagi
Cinta telah membutakan mataku
Cinta telah membutakan hatiku
Dan aku tak sanggup berpaling darimu
Namun semenjak engkau berubah …
Aku tak tahu harus berbuat apa…
Kau telah mengacuhkan diriku
Tanpa harus kutahu salah dan dosaku
Perjalanan cinta yang indah
Kini telah menjadi telaga duka
Yang dipenuhi air mata
Dan aku harus mengerti tentang semuanya
Engkau tak mungkin merasa bahagia
Di atas penderitaan hati saudaramu
Dan aku mengerti …
Satu pertanyaan yang sampai kini kusimpan dihatiku…
“Mengapa kau tak pernah jujur mengatakan, bahwa
Saudaramu juga menaruh hati padaku..”
Untuk “Sa’anah”
Kebersamaan diantara kita
Telah membuat hatimu merasa berbeda..
Aku tak menyangka arti dekatku
Telah membuat hatimu merasa nyaman
Aku tak pernah berpikir lain tentang dirimu
Yang pasti… engkau adalah sahabat dekatku
Sahabat yang selalu bersama setiap saat
Maafkan aku sahabat..
Bukan maksud hatiku menyakiti hatimu..
Tak ada niat di hatiku melukai kalbumu..
Sungguh sahabat…
Engkau gadis manis yang selalu ceria
Aku percaya ada yang lebih baik dariku
Kalau boleh jujur sahabat…
Hatiku telah terpikat wanita lain
Tak mungkin aku membohongi perasaanku
Sebelum terlanjur semuanya…
Maafkan aku sahabat…
Untuk “ Margaretha Marita”
Cinta …
Tak ada yang tahu kapan datangnya…
Dan cinta …
Tak ada yang tahu kapan berlalunya …
Saat hati dilanda ketidakpastian…
Enkau datang menawarkan angin sejuk
Memberikan segumpal harapan indah
Kau semaikan hatimu untuk aku rengkuh…
Tapi…
Mungkin kaupun tahu…
Cinta tak bisa dipaksakan…
Tak bisa dibuat-buat
Mulut bisa berkata…
Tapi hati tak bisa di bohongi…
Tak ada sepercik pun rasa cinta untukmu
Bagiku kau adalah tetap seorang sahabat
Maafkan aku sahabat…
Mungkin aku lelaki yang tak tahu diri
Yang tak pernah mengerti perasaanmu
Tapi kukira kaupun faham dan mengerti…
Kaupun tak akan mau …
Hanya dijadikan pelampiasan semata…
Tak ada yang abadi selain persahabatan
Untuk “Siti Ramlah”
Kau datang saat hatiku terluka
Kau berikan senyuman manis
Yang mampu mengikis kepedihanku
Perlahan pasti kebekuan hatiku mulai mencair…
Cinta yang kurasakan kini
Bukanlah suatu pelampiasan
Bukan pelarian
Bukan paksaan
Tapi dari relung hati
Kau pancarkan sinar kasih yang tulus padaku
Dan aku sangat bahagia …
Dua tahun perjalanan cintaku
Aku merasakan kebahagiaan yg sempurna
Namun…
Takdir telah memisahkan kita
Orang tuamu tak merestui hubungan kita
Semua hanya karena adat dan suku…
Dan aku harus merelakan engkau pergi
Mengubur impian – impian indah bersamamu
Melupakan janji yang pernah kita ikrarkan
Dan itu sangat menyakitkan…
Kini…
Sampai kini aku tak tahu..
Dimana engkau berada…
Namun aku selalu berdoa…
Untuk kebahagiaanmu… kesuksesanmu …
Untuk “ Tuti Romlah “
Ada yang berkata…
Aku cinta padamu karena engkau seperti mantan kekasihku
Namamu pun hampir mirip…
Bahkan suku juga sama…
Tetapi terlepas dari itu semua
Aku tak perduli
Karena rasa cinta itu tumbuh indah dihatiku
Dan itu bukan karena orang lain
Karena memang kau telah memikat hatiku
Keceriaan wajahmu…
Rambutmu yang panjang tergerai…
Senyummu yang selalu sumringah…
Telah membuat hatiku terpukau
Dan aku tak bisa untuk menolak pesona kecantikanmu
Namun seiring waktu yang terus berputar
Disaat aku selalu jauh darimu…
Dan ketika cintaku mulai mendua…
Kaupun ternyata berbuat hal sama…
Sehingga aku harus menentukan diantara dua pilihan
Engkau tak mau melepaskanku…
Dan kau pun tak mau melepaskan dia…
Aku disimpang jalan…
Tak tahu jalan mana yang harus ku tempuh…
Wahai kekasihku…
Aku tahu semua terjadi karena kamu ingin membalas dendam…
Engkau berpikir aku telah menduakan cintamu…
Ketahuilah kekasihku….
Aku mengenal dia sebelum engkau jadi kekasihku…
Aku tahu kamu kecewa…
Tapi bukan berarti kamu harus menduakanku…
Aku tahu mungkin aku salah…
Dan untuk menebus kesalahanku
Biarlah aku berlalu dari kehidupanmu
Maafkan aku kekasihku…
Untuk “ Nur Fajariyah Rohmah “
Tak ada yang meragukan kecantikanmu
Pesonamu yang anggun…
Tingkahmu yang sopan
Tutur katamu yang halus dan lembut
Adalah anugrah yang sempurna yang kau miliki
Banyak kumbang menggoda
Banyak pria tergila-gila
Tetapi engkau tetap gadis yang alim
Yang tak pernah menonjolkan kelebihanmu
Mungkin di dunia ini akulah lelaki yang beruntung
Bisa menaklukan hatimu…
Padahal mungkin engkau tahu tentang sifatku…
Tapi engkau menganggapku lelaki yang teristimewa…
Dan aku sangat bahagia…
Mengagumimu mungkin semenjak aku kenal dirimu…
Kita sering bersama dalam suatu organisasi…
Dan aku tahu…
Tak mudah bagimu jatuh hati…
Butuh waktu lama untuk menerima cintaku
Dilema pun menghampiriku…
Aku telah membohongimu…
Tapi …
Haruskah aku menyalahkan cinta??
Karena cintamu hadir setelah hatiku sudah milik orang lain…?
Padahal aku lebih dulu dekat dengan dirimu…
Saat yang paling menyedihkan adalah…
Ketika aku datang padamu setelah sekian lama aku pergi tanpa berita…
Tanpa kabar…
Dan aku melihat wajahmu…
Ada duka, sedih dan senang…
Kau memelukku dengan erat seakan tak mau melepaskan
Kau menangis dipelukanku…
Dan akupun menangis…
Sejenak aku menatap wajahnya yang berkaca-kaca
Dan aku tak sanggup untuk menatap matanya…
Maafkan aku kasih…
Aku harus meninggalkanmu…
Tak mungkin selamanya membagi cinta
Aku merasa sangat tak pantas hidup berdampingan denganmu
Air matamu begitu deras mengalir…
Tak ada kata-kata yang terucap
Kau hanya mengeluarkan selembar surat dari saku bajumu…
Kau pun tak memberikannya padaku
Padahal aku tahu surat itu pasti untukku…
Tetapi…
Engkau hanya merobek-robek surat itu sampai kecil-kecil
Dan engkau pun berkata…
“sekian lama aku menantimu, kini setelah kau ada dihadapanku,
Kau telah memupupuskan harapanku. Lihatlah potongan-potongan
surat ini, seperti inilah luka dihatiku saat ini. Hancur berkeping-keping”
Aku tak dapat berkata – kata
Air mataku menetes deras…
Maakan aku kasih…
Aku tahu seharusnya hari ini engkau bahagia
Karena aku telah hadir di hadapanmu
Tetapi bukan kebahagiaan yang kau terima…
Kedukaan dan kehancuran hatimu…
Untuk “ Nurilah “
Kehadiranmu telah memberi warna lain
Kesepian dan kehampaan hatiku
Telah engkau cairkan dengan keluguanmu
Aku terpesona dan jatuh cinta
Kisah masa lalumu yang kelabu…
Kisah dukamu yang kelam
Telah membawaku turut merasakan kedukaanmu
Engkau menganggap aku tak sepadan denganku
Tapi aku sangat ingin dekat denganmu
Cinta yang kurasakan berawal dari rasa simpati
Namun seiring waktu …
Ternyata aku memang jatuh cinta
Kita arungi bahtera cinta bersama…
Sangat kurasakan kebahagiaan bersamamu
Cinta memang tak pernah memandang status…
Dan aku tak perduli dengan kata orang…
Tentang statusmu… tentang masa lalumu
Aku tetap cinta dan sayang…
Namun semuanya harus berakhir…
Kehendak orang tuamu telah memisahkan cinta kita
Karena memang aku bukanlah orang yang seperti diharapkannya
Aku hanyalah lelaki miskin
Tak punya apa-apa yang bisa diandalkan…
Melepas kepergianmu adalah hal gila yang harus kutempuh
Aku patah hati …
Patah semangat…
Dan dalam keterpurukanku…
Seberkas kasih suci telah hadir
Memberi sinar terang dalam hatiku…
Untuk “ Risa Umami “
Kau hadir saat hati ini dalam keterpurukan
Kau datang saat hati ini dalam penderitaan
Kau berikan sinar kasih yang tulus
Kau berikan kesejukan hatimu membalut lukaku
Semangatku kembali hadir…
Harapanku kembali menyala
Padahal engkau begitu belia…
Namun cinta yang berikan begitu tulus
Air mataku menetes dipelupuk mataku
Saat kau selalu menghiburku saat aku berduka
Kau selalu setia menemaniku dalam sedih
Dan kau selalu tabah menghadapi cercaan orang lain
Aku tak dapat menolak kasih yang kau berikan
Meskipun bayang-bayang masa lalu selalu terbayang
Dan pada akhirnya kembali berpisah…
Maafkan aku kasih…
Aku tahu masa depanmu masih panjang
Tak ada yang lebih membahagiakan …
Selain aku melihat dirimu sukses…
Biarlah aku pergi …
Mencari jati diriku yang tak pasti ini…
Untuk “ Sri Winingsih “
Jenjang pernikahan hanya tinggal selangkah
Tetapi semuanya harus sirna
Tak tahu apa yang telah terjadi
Kaupun sendiri tak pernah jujur kepadaku
Aku tahu semua hanya karena ekonomi
Padahal dulu…
Orang tuamu sangat takut kehilanganku
Karena engkau begitu mencintaiku
Pagi, siang, malam…
Engkau selalu ingin bersamaku
Selalu telepon dalam setiap jam
Cinta yang berikan begitu besar…
Rasa cemburu yang kau curahkan begitu buta
Siapapun engkau cemburui…
Tapi…
Mengapa secepat itu engkau berubah…?
Apa salah dan dosaku…
Apakah aku salah jika dilahirkan dari keluarga miskin?
bersambung........
Rabu, 11 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar