Saat mentari datang, aku lihat wajahmu pada bening embun yang menggantung di dedaunan.
Saat itulah aku merasa lebih cinta lagi pada dirimu.
Dirimu bagai angin segar yang membangkitkan kenangan lama.
Bagai seorang kekasih yang hilang, kini datang kembali mengisi kehampaanku
Ketika kurasa hembus nafasmu menggelitik telinga,
saat kau lingkarkan lengan di pelukan, dan saat kautatap mataku erat,
itulah surga sebenarnya
Halimun dan hujan, terpeleset embun dan silau karena bulan.
Walau kau jauh, aku masih tetap setia,
menunggu sampai kapan cinta kita kembali berjalan
Hampir seperti mawar separuh layu.
Sudah kering sebelah, namun sedetik kau datang tawarkan cinta,
hilang semua dahaga dan derita
Bila berada di dekatmu, aku cium manisnya madu.
Bila memandang bola matamu, aku menjadi malu.
Bila tidak lagi aku mencintaimu, lebih baik aku menjadi batu
Menggapai dirimu bagaikan ujian terpenting dalam hidupku.
Sampai kapanpun tak akan pernah berhenti, karena dirimu terlalu berharga untuk dilepaskan
Tatapan matamu bagaikan mata pisau menusuk tajam hatiku.
Membuat aku tak mampu berkata-kata, membuatku diam.
Karena saat berdua bersama dirimu, kurasa bagai selamanya
Kembalilah kau wahai curahan jiwa.
Temani aku rasakan cinta, yang tak kutemukan pada yang lain.
Yang tak kurasa bila tidak dengan dirimu
Semoga peri malam menyampaikan salamku untukmu, semoga kau selalu memikirkan tentang aku, seorang yang mencintaimu setulus hati
Sabtu, 28 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar